Kamis, 02 April 2020

Review Anime Astra Lost In Space dari Aspek Sains Part 1




Hola minnasan!!
Kali ini gua mau bahas salah satu anime summer 2019 yang underrated tapi kualitas ceritanya menurut gua ga kalah dari anime overrated. Udah lama nihh, kok baru dibahas? *gomen :’)
Yapss! Apalagi kalo bukan Astra lost in space atau Kanata no Astra.
Bagi lu yang suka sains dan gamau yang monoton, anime ini cocok buat dijadiin list tontonan buat mengisi kegabutan kalian hohoho

sumber : achmusic.net
Anime : Kanata no Astra

Yop lanjutt! Jadi anime ini itu bercerita dengan latar belakang tahun 2063 di mana perjalanan antar planet itu bukan suatu hal yang mustahil lagi dilakukan. Yepp, maksudnya di sini itu, manusia di tahun segitu udah buat kendaraan luar angkasa yang memudahkan kita mengunjungi planet satu dengan yang lainnya. Sebenarnya sih, perjalanan antar planet itu udah dilakukan di masa sekarang, cuma kapasitasnya terbatas, hanya untuk orang-orang yang sudah diberikan pelatihan menjalankan misi ke luar angkasa. Hal yang menarik di anime ini , mereka bukan sekedar menjalankan misi luar angkasa, tetapi perjalanan mereka ke luar angkasa itu merupakan kegiatan semacam study tur kalo dibandingin dengan kondisi sekarang. Nah bayangin aje, kalo study tur elu pada ke planet mars wkwkw. Pasti seru tuh, tapi tetep aja untuk teknologi sekarang hal itu masih belum bisa diaplikasikan. Terus kalo lu ditanyain ama kawan sekolah lu be like “eh elu study tur ke mane?” terus elu jawab “ke planet mars lahh!” wkwkw kocak kan, dengan bangganya elu jawab begitu hehe
Lanjut!
Selain itu, yang menjadi focus utama dalam review gua tentang anime itu adalah, gua ingin meninjau anime itu dari aspek fisikanya. Wutt? Fisika? *Dahlah nyerah gua :’) berhubung gua mahasiswa jurusan fisika *ekhem  jadi gua akan membahas topic menarik yang menjadi pusat perhatian gua sebagai anak fisika di blog ini.
Kalian tahu wormhole?? Hah lubang cacing? Ya tau laa! Kok topiknya gaje sih :’v
Ini bukan wormhole biasa gaisss J
Kalau kalian udah nonton anime ini, kalian pasti inget kan, kalau pesawat luar angkasa yang mengantar mereka menuju planet tiba-tiba rusak, dan delapan siswa-siswi tersebut terhisap ke dalam lubang yang dapat menghisap apapun , tiba-tiba muncul pada saat mereka tiba di planet tujuan, dan terlempar ke ruang antar galaksi lain yang sangat asing bagi mereka, dan saat terlempar itulah mereka menemukan pesawat baru yang layak untuk ditinggali dan hancurlah kegiatan study tur mereka. Akhirnya, study tur yang menggembirakan tersebut berubah total dan menjadi strategi  bertahan hidup agar mereka bisa kembali ke planet asal
Note : nama pesawatnya astra terinspirasi dari nama planet yang mereka tinggali yaitu planet astra makanya judulnya astra wkwk
Untuk kasus  tsb, lubang itu adalah lubang cacing (wormhole). Konsep tersebut mengatakan bahwa jikalau lubang cacing (masih teoretik sih) itu ada, maka perjalanan dari satu galaksi ke galaksi lain (intergalaktik) itu memungkinkan. Kayak di bawah nih gambarnya

sumber : sains.kompas.com
Ilustrasi wormhole

Sayangnya ya, masih teoretik. Lubang cacing itu sendiri ga ada hubungannya dengan lubang dan cacing, hanya sebuah analogi yang menggambarkan bagaimana teori relativitas umum memberi harapan bagi kita agar bisa melakukan perjalanan ke alam semesta lain melalui terowongan ruang waktu yang disebut lubang cacing .Untuk memudahkan, ibaratnya seekor ulat yang melubangi sebuah apel dan masuk ke dalam lubang tsb sehingga tembus di sisi apel yang lain. Lah kan ulat? Kenapa ga lubang ulat? Yaa, kata ilmuan saat itu sih untuk analogi saja lagipula cacing sama ulat sama saja :) sama-sama worm. Wormyyyyy!
Lanjutt! Dalam perjalanan menuju alam semesta lain, di dalam anime itu hanya membutuhkan waktu beberapa detik hingga akhirnya mereka tiba dengan menggunakan wormhole tadi. Namun, kenyataannya, kita bisa saja melakukan perjalanan ke luar angkasa lain gaiss, akan tetapi sekalipun kita pergi dengan menggunakan teknologi tercepat buatan manusia sekarang ini, tetap saja membutuhkan waktu sekitar ribuan tahun cahaya untuk sampai. Belum lagi kalo abis bahan bakar, emang di luar angkasa ada pertam*ni ape wkwk (*canda oii*)
Tapi ya, karena latar belakang anime ini  tahun 2063, bukan hal yang mustahil lho kalau lubang cacing itu bisa dibuat, karena sekarang saja sains sudah berkembang pesat, dan kita patut mengapresiasi astronom-astronom di dunia yang berhasil mengambil citra lubang hitam pada jantung galaksi M87 lho, keren kann! Standing aplause buat mereka gaisss!
Cuma gaisss…. Eitss ada cuma nya nihh…
Ternyata eh ternyata, lubang cacing itu ga stabil gaisss. Nah lho, maksudnya ape tuh?
Jadi jika seandainya lubang cacing  muncul, seperti di anime itu, maka dalam waktu yang singkat dia akan menutup kembali dan berubah jadi lubang hitam. Sekalipun kita berhasil masuk, kita cuma sampai di mulutnya doang gaiss, dan akhirnya terhisap dan lenyap ke dalam singularitas lubang hitam. Untuk membuat lubang cacing itu sendiri, kita harus “merobek” ruang dan menyambungnya kembali gann, dikira segampang ngerobek kertas apee. Tapi kenyataannya, ruang itu gabisa dirobek, ruang hanya bisa melengkung, memuntir, dan juga bergelombang. Jadi teori si babeh Einstein mengizinkan si lubang cacing ada, tapi untuk membuat lubang cacing itu sendiri gabisa gaes.
*waduh kok makin ruwet yakk? Otak gua dah pusing, banyak bet istilah fisikanyee :’(
Skip lah yaa, kalo dilanjutin tentang lubang cacing, lubang hitam sama singularitas ga bakalan kelar nih review. Bukannya jadi review animu malah jadi kuliah fisika wkwkw
Jadi, intinya kedelapan siswa tersebut bakalan lenyap dilahap sama lubang hitam dan akhirnya mereka gabakalan sampai ke alam semesta lain gan, itu udah konsekuensi teori relativitas umumnya babeh Einstein, serta lubang cacing itu sendiri gabisa dibuat gann. Tapi yaa, author Kenta-sensei berkata lain, mereka tetap bisa sampai ke alam semesta lain yeayy! *paan dah -_-
Nah jadi itulah part 1 anime Kanata no astra dari aspek fisikanya, see you di part 2 gaissss
Arigatou gozaimashita, mata neee!!


4 komentar: